Sore itu langit menampakkan wajah sendunya. Dengan tenang dan tanpa permisi, buliran-buliran air mata langit turun dengan derasnya. Hujan sore ini begitu lebat hingga merontokkan daun dan dahan-dahan pohon mangga yang berada tepat di depan jendela kamarku. Aku termenung sendiri di depan jendela kamarku. Merasakan nikmat dan anugerah Tuhan yang sangat luar biasa. Aku suka hujan. Ada kalanya hujan juga merugikan. Tapi aku tetap menikmatinya. Sembari menggenggam secangkir coklat panas ditangan kananku, pikiran ku melayang, terbang tak beraturan, hingga pikiranku mentok pada sosok wajah yang sangat aku kenali. Adit. Teman kecilku yang selalu menemaniku di kala aku senang dan sedih. Selalu merubah hidupku menjadi lebih berwarna. Sudah seminggu ini nama Adit selalu terngiang-iang dalam kepalaku. Memenuhi seluruh memori otakku. Entah kenapa aku selalu merindukan cowok itu. Cowok dengan sejuta bualan. Tapi kadang sifat cuek dan masa bodoh nya keluar dengan tenangnya. Justru aku suka dengan sifatnya itu. Begitu menghangatkan pikiranku kala mengingatnya.
Drrt.. drrt…
Hp ku mengalun dengan merdunya. Menyadarkanku dari lamunan panjang ini. Aku segera mengambil hpku yang sedang menari-nari diatas meja belajar.
Nat…
Panjang umur. Sms dari Adit. Aku tersenyum begitu membacanya. Kenapa sih sms dari kamu selalu membuatku tersenyum?Batinku. Aku langsung membalasnya, dan merebahkan diri dikasur empukku.
***
“Nat, Natalie!tunggu!aku mau ngomong penting nih,” teriak Raya dari ujung lorong sekolah. Aku menoleh ke belakang, dan mendapati sahabatku sedang berlari kearahku.
“Ada apa?Kayaknya penting banget,” tanyaku langsung begitu Raya tiba dihadapanku.
“Ngomongnya jangan disini Nat. Ditempat favorit kita. Gimana?”
“Oke.Yuk,”
***
Setibanya di tempat favorit, tepatnya di taman belakang sekolah, kita langsung duduk di bawah pohon rindang. Hmm, aku merindukan suasana ini. Suasana dimana aku dan Adit biasanya menghabiskan waktu dengan bercanda ria. Huh, Adit lagi, Adit lagi. Kapan sih kamu bisa hilang dari otakku?
“Nat, kok melamun?Aku ngajak kamu kesini bukan untuk ngeliat kamu melamun, tapi ada sesuatu yang ingin aku omongin. Are you ready to hear this?” tanyanya dengan senyum yang mecurigakan. Aku hanya tersenyum dibuatnya, dan mengangguk dengan cepat. Kadang Raya ini sangat konyol dan kekanak-kanakan. Tapi aku sangat menyayanginya.
“Oke. Dengerin baik-baik. Natalie Aulia Arnelita, apakah kamu sudah menjalin hubungan bersama Adit Firmansyah?” tanyanya dengan suara lantang dan penuh percaya diri. Aku hanya bisa melongo dan kaget apa yang telah dilontarkan oleh sahabatku ini.
“Ngaco!gosip dari mana pula itu?”
“Dari anak kelas. Ah, itu gak penting. Yang penting, kamu udah jadian sama Adit? Masa sih Nat? Kan kalian cuman sobatan kan?”
“Emang sobatan. Lagian siapa lagi yang jadian. Plis deh. Kamu percaya banget sih,”
“Bukannya gitu. Masalahnya, waktu kemarin aku ngeliat Adit lagi berduaan sama sepupu kamu, Mia.”
Aku tercengang begitu mendengar apa yang dilontarkan oleh Raya. Adit deket sama Mia?Sejak kapan?
“Ma-masa sih? Hm..ya..itu sih terserah Adit dong mau deket sama siapa aja. Bukan urusan aku. Lagian, sekarang aku dan Adit udah jauh. Gak deket kayak waktu dulu. Kenapa pula ada gosip aku udah pacaran sama dia? Kenapa gak dari dulu aja gosipin aku pas aku lagi deket-deketnya sama Adit? Iya kan? Aku bukan siapa-siapanya Adit. Hanya sebatas temen masa kecil doang ko. Gak lebih,” kataku dengan bibir bergetar. Entah kenapa ada perasaan sakit yang terselubung dan begitu mendalam di hatiku. Sejurus kemudian aku berlari meninggalkan Raya yang sedang terdiam dan terpaku.
***
Siang itu aku berjalan dengan gontai menyusuri koridor sekolah. Jam pulang sekolah sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Aku sengaja tidak langsung pulang kerumah, dan hanya mengitari sekolahku yang sangat luas ini. Sedetik kemudian aku duduk di dekat lapangan basket. Cuaca saat itu cukup panas. Sehingga banyak peluh yang keluar dari tubuh ini. Dari arah kejauhan, aku melihat sosok yang sangat tidak asing bagiku. Dia Adit. Bersama cewek di sampingnya, Mia. Tiba-tiba ada suatu perasaan aneh yang menjalar hingga keubun-ubun. Perasaan campur aduk ini tidak bisa aku hindari. Spontan, aku menendang kaleng minuman, yang kebetulan berada tepat di sampingku. Bunyi kaleng itu cukup menimbulkan suara gaduh. Ekor mataku sedikit melirik kearah mereka berdua, dan tentu saja dengan sigap mereka menatap ke arah sumber suara. Aku hanya bisa diam terpaku. Aku langsung mengambil handphone dari saku bajuku, dan mengotak-atiknya dengan asal. Tentu handphone ku ini sekarang menjadi alat kamuflase. Sesekali aku melirik ke arah mereka. Tidak ada reaksi atau gerak-gerik mencurigakan. Apa sih maunya mereka? rutukku dalam hati. Tiba-tiba aku tersadar. Entah ada perasaan apa hingga dengan santainya rasa itu menguasai hatiku saat ini. Aku cemburu?Oh, yang benar saja….
***
Aku berdiri seperti biasa didekat jendela kamarku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktuku hanya untuk berdiri, dan memandangi hamparan taman yang begitu luas dengan bunga mawar yang mendominasi tamanku. Sungguh menyejukkan hati. Kuasa senja kala itu mulai redup. Sebias cahaya mentari di ujung barat, mulai tenggelam. Kini kerajaan malam mulai muncul. Tapi sang dewi malam belum juga menampakkan sayap kekuasaannya. Tanpa disengaja, aku memutar kembali memori didalam otakku tentang insiden tadi siang. Dengan tenangnya aku menjatuhkan air mataku. Begitu sakit rasanya hati ini kala mengingat kejadian itu. Tapi aku sadar. Aku bukan siapa-siapanya Adit. Aku juga sadar. Aku telah mencintai teman masa kecilku. Apa aku salah, telah mencintai sahabatku sendiri? Tanyaku berulang-ulang dalam hati.
Tanpa disengaja, sudah 10 menit aku berdiri disini sambil menatap lurus kedepan. Dari arah kejauhan, ada sesosok lelaki yang berdiri di depan gerbang rumahku. Ah, itu kan Adit. Ya ampun Nat, sampai kapan kamu bisa lupain dia?Inget, dia udah ada yang punya. Mungkin itu cuma halusinasiku saja. Forget it! jeritku dalam hati sambil menutup kedua kupingku. Kemudian melihat lagi ke arah gerbang. Melihat dengan sejelas-jelasnya, sambil mengucek-ucek mataku dengan kedua tanganku.
Tok, tok, tok…
Pintu kamarku diketuk dari arah luar. Aku langsung menuju pintu, dan membukanya.
“Ada apa bi?” tanyaku pada bi Sumi.
“Itu Non, ada tamu diluar, katanya den Adit,” katanya. “Permisi non,” lanjutnya sambil meninggalkan aku yang sedang terdiam. Adit?Berarti benar dugaanku. Aku langsung berlari menuruni tangga satu persatu dan langsung menuju halaman depan.
“Adit!” teriakku saat berlari kecil menuju pintu gerbang. Aku terdiam sebentar menatap wajah Adit. Aku sudah lama banget tidak melihat wajah nyebelin kamu Dit..
“Ehem! jadi aku gak boleh masuk nih? Inget lho, aku temen masa kecil kamu,” katanya sambil tersenyum kecil. Aku ikut tersenyum. Lalu membuka pintu gerbang.
“Masuk Dit,” kataku mempersilakan. Adit pun menurut, lalu langsung duduk di kursi yang berada ditaman.
“Mau minum apa? Biar aku yang ambil..” sebelum aku melangkahkan kakiku untuk mengambil minum, Adit menarik tanganku, membuat aku kaget setengah mati. Lalu Adit berdiri, dan menarikku ke dalam pelukannya. Hah?Apa-apaan sih kamu Dit ,Bodoh.
Aku langsung mendorong badan kekar Adit. Kami sama-sama menatap satu sama lain.
“Apa-apaan sih kamu Dit? Sembarangan, meluk orang seenaknya!” ujarku kesal. “Oh, jadi gini ya, kerjaan cowok yang padahal udah punya cewek,” lanjut ku.
“Kamu ngomong apa sih Nat? Aku gak ngerti,”
“Udah deh. Aku lagi nggak mau berdebat sama kamu. Mendingan kamu pulang aja Dit. Ini udah malem,” Kataku sambil mendorong Adit untuk yang kesekian kalinya. Adit hanya bisa diam dalam tempat. Menatapku yang sekarang sudah mulai berjatuhan air mata. Adit mendekati aku, lalu mengusap air mataku, dengan perlahan-lahan. Sangat jelas aku bisa merasakan kehangatan tangan Adit yang sangat menyentuh jiwaku. Tenang. Damai.
“Cukup Dit. Kamu nggak usah care lagi sama aku. Tuh, disana udah ada yang nungguin,” kataku dengan bibir bergetar, menahan tangis ini agar tidak meledak. Adit menoleh ke belakang. Digerbang sana terdapat Mia yang sedang berdiri, melihat kami dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Lalu Mia masuk dan menghampiri kami berdua.
“Hai semua. Lho, Nat, kamu abis nangis? Adit, kamu apakan sepupu aku? Katanya sayang, kok malah dibikin nangis sih. Dasar cowok aneh,” Ujarnya sambil melenggang dengan santainya masuk kedalam rumahku. Aku hanya bisa melongo mendengar apa yang dibicarakan oleh Mia. Sedetik kemudian aku menatap Adit yang sekarang sedang tersipu malu.
“Maksudnya?” kataku sambil menghapus sisa-sisa air mata didalam mataku. Adit hanya menghela napas panjang. Lalu menatap wajahku. Lama.
“Natalie, jangan di ulangin lagi dong. Adit kan malu,” katanya dengan memasang wajah innocent. Aku tertawa melihat tampangnya yang begitu lugu.
“Apaan sih? Gak lucu deh. Emang tadi apa sih maksudnya Mia ngomong kayak gitu? Hmm, jangan bilang kalo kamu suka ama aku? Hahaha,”
“Idih, GR banget. Siapa lagi yang suka sama cewek yang hobi tidur dan hobi ngemil kayak kamu. Tambah melar tuh badan. Hahaha,”
“Ih, apaan sih? Biarin. Daripada kamu, hobi ngorok dan hobi ngupil. Ih, amit-amit cabang bayi deh,”
“Bodo. Tapi suka kan?” tanyanya sambil menyenggol lengan kananku.
“Apaan sih. Nggak lucu tau nggak. Yodah, kalo nggak ada yang penting, mending kamu pulang aja Dit. Oia, sekalian bawa cewek kamu, MIA.” sengaja aku menekankan kata Mia ditelinga Adit. Adit hanya memasang wajah datar.
“Oia lupa, soal Mia. Aku mau ngomong penting nih Nat,”
“Apaan?”jangan bilang kamu udah jadian sama Mia, Dit.
“Hmm, Kalo aku, udah.. jadian sama sepupu kamu,” bisiknya tepat ditelinga kiriku. Bagai petir disiang bolong. Aku bisa merasakan sakit yang luar biasa menggrogoti hatiku. Tanpa terasa aku menteskan air mataku. Sangat deras.
“Nat, kok nangis lagi sih? Udah ya, cup, cup. Aku nggak tahan kalo melihat orang yang aku sayangi, menangis.” katanya sambil mengusap air mataku penuh kelembutan. Aku nggak salah dengar kan? Berarti, yang Mia omongin itu, bener dong. Ih, Adit nyebelin!
“Nat, aku sayang banget sama kamu. Mau kan, kalo Adit jadi cowok kamu?”
Aku hanya bisa terdiam. terkejut apa yang telah Adit lontarkan.
“Jahat!”
“Kok jahat sih? Segini Adit baiknya,”
“Kalo Adit suka sama Nat, ngapain tadi pake bohong segala? Nyebelin!” ucapku dengan bibir manyun sembari pasang muka cemberut.
“Oh, yang itu. Hmm, maaf ya, Adit cuman mau ngetes aja kok. Bener gak, kalo kamu cemburu sama aku? Eh, benar kan dugaan Adit, kamu cemburu? Pake nangis segala lagi,”
“GR banget sih. Ngapain cemburu.” Sejurus kemudian Adit memegang kedua tanganku, lalu mencium punggung kedua tanganku. Kemudian memelukku.
“Nat, asal kamu tau, waktu itu Adit ngobrol berdua sama Mia dilapangan basket itu, cuma curhat tentang kamu. Kalo Adit suka sama kamu. Malam ini, Adit sengaja nyuruh Mia datang kesini, cuma mau bantuin Adit aja kok. Gak lebih. Kamu percaya kan?” katanya dengan posisi masih memelukku. Aku hanya bisa mengangguk. Lalu memejamkan kedua mataku.
“Aku juga sayang banget sama kamu Dit,” Adit melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum. Lalu kami berpelukan lagi dengan eratnya.
“Cie, yang udah jadian!!” teriak dari arah dalam rumah. Disitu terdapat Mia dan Raya. Kompak, mereka tertawa terbahak-bahak. Hah?Raya?Sejak kapan tuh bocah ada disitu?
Spontan kami langsung melepaskan pelukannya, dan menyelamatkan wajah kami yang sudah berubah warna itu.
Hmm… selamatkan roman cintaku dari kalimat “hancur dan mati”. Jadikan roman cintaku selalu hidup dan tak pernah sirna. Ku mohon…batinku.
TAMAT
Minggu, 05 September 2010
AURA BEAUTY
“Huahahaha!!!” pagi itu suasana kelas XI IPA1 dipenuhi ketawa anak-anak. Semua penghuni kelas menertawakan gue-yang baru saja memperkenalkan diri didepan mereka, karena gue murid baru disini. Gue hanya memasang tampang masa bodo dan cuek stadium akhir. Gue merasa mereka menertawakan gue karena iri dengan nama gue yang asli emang unik ini. berpikirlah positif untuk hari ini.
“Nama yang aneh. Maksa banget,”seru salah satu cowok yang berambut keribo.
“Tenang anak-anak. Jangan ribut. Ok, silahkan dilanjutkan,” suara bu Dina berhasil meredakan suara anak-anak itu.
“Gue pindahan dari Paris. Mungkin gitu aja bu,” kata gue singkat lalu menuju kebangku pojok sebelah kanan. Disitu terdapat cewek berambut panjang dengan tampang cueknya, sama seperti gue.
“Terima kasih Aura Beauty. Ok anak-anak, sekarang buka buku Biologi kalian,”
***
“Nama lo unik juga. Gue suka,” kata cewek disamping gue. Waktu itu masih jam pelajaran Biologi.
“Thanks,” jawab gue singkat. Lalu memperhatikan ibu Dina yang sedang menjelaskan tentang Sel. Gue menoleh ke arahnya. Boleh juga nih cewek. Tapi kenapa dia duduk sendirian dipojok ya? Kesannya semua anak-anak disini gak ada yang nemenin dia. Kenapa ya?
“Napa lo ngeliatin gue?”
“Nggak. Siapa lagi. GR banget sih lo,”
“Kenalin. Gue Ayu. Ayu Debora Tritan.”
“O.” jawab gue singkat. “Napa lo duduk sendirian disini? Kok kesannya lo nggak punya temen gini?”
“Bukan urusan lo,” jawabnya dingin, bebarengan dengan bel pergantian pelajaran. Gue hanya menelan ludah. Sial, juteknya ngelebihin gue. Pantes, dia nggak punya temen. Juteknya aja selangit gini. Nyesel deh gue duduk disini.
***
Isitirahat itu gue muter-muter mengelilingi sekolah baru gue yang ternyata luas banget. Sambil ditemani komik Conan ditangan gue, gue melintasi lapangan basket. Banyak cowok-cowok khas pemain basket yang sedang bermain dengan asyiknya. Pastinya, banyak cewek-cewek yang menonton dibangku penonton yang berada disamping kanan-kiri sambil bertepuk tangan dengan hebohnya. Gue nggak berminat menonton basket kampungan itu. Apalagi disamain sama cewek-cewek yang nggak kalah kampungannya itu. Nggak banget deh. Saking asyiknya gue melamun sambil membaca komik, gue menabrak seseorang. Shit!
“Adawww!!!” teriak gue dengan badan jatuh ketanah. Teriakan gue berhasil menyedot perhatian anak-anak yang ada disekitar gue. Termasuk para pemain basket itu. Mereka berhenti bermain sambil menoleh ke arah sumber suara.
“Sakit tau nggak!” seru gue sambil tidak lepas membersihkan lengan gue yang terkena debu. Tangan orang itu mengulurkan tepat di wajah gue. Gue menengadahkan kepala gue, menatap pelaku yang udah nabrak gue sampai jatuh. Oh My God!!! Ternyata makhluk yang sekarang ada didepan gue sambil mengangkat alisnya, mengisyaratkan agar gue menerima uluran tangannya itu, makhluk bernama COWOK. Gile, cakep amat ya nih cowok. Gue sampe lemes nih.
“Mo dibantuin nggak?” Tanya cowok itu. Suaranya sangat lembut.
“E, i, iya.” Ragu-ragu gue menerima uluran tangannya. “Makasih,” kata gue sambil berdiri. Lalu cowok itu pergi begitu saja tanpa memperkenalkan diri. Gue hanya bisa memandanginya dari belakang. Hanya satu kata pendapat gue tentang cowok itu, cool.
***
Sudah satu minggu gue sekolah disini, sudah satu minggu pula gue tau siapa cowok itu. Namanya Rigby. Anak kelas sebelah. Ternyata, dia itu sengak, jutek, dingin, so cool, nyebelinnya setengah mati dan sebagainya. Gue ralat deh perkataan gue seminggu yang lalu tentang cowok itu. Ya wajar aja, pandangan pertama gitu. Emang sih, wajahnya cakep banget. Tapi sifatnya itu lo, amit-amit deh. Akhir-akhir ini, gue sering berantem sama dia. Semua satu sekolah sudah hapal kalau gue sering berantem ama dia. Ya, kaya tom and jerry gitu.
“Aura, lo nggak berantem lagi, sama si Rigby itu? Tumben. Ada apa nih?” Tanya teman sekelas gue, Rena, sambil menggodai gue. Gue hanya menghela napas panjang.
“Bodo amat. Kaya nggak ada kerjaan lagi aja ngurusin cowok tengil itu!”
“Awas lo, kena omongan!” kata Mia ikut nimbrung. Mereka cekikikan. Habis deh gue digodain. Dari ujung pojok sana, ada sepasang mata yang sedang menatap gue. Dia Ayu.
“Ra, kayaknya ada yang lagi ngeliatin kita deh,” kata Rena sambil berbisik di kuping gue.
“Yang tepat, lagi ngeliatin Aura!” seru Mia cablak. Kompak, Rena dan Mischa, yang sedari tadi hanya menjadi pendengar itu, menutup mulut Mia. Gue hanya menggeleng-geleng kepala. Aneh, melihat kelakuan mereka bertiga. Gue ngeliat ke arah Ayu. Yang di liatin malah membuang muka.
“Sengak banget tuh cewek. Emang dia nggak punya temen disini?” Tanya gue
“Beuh… boro-boro punya temen. Punya kenalan aja dia nggak punya. Kita semua kompak benci ama tuh bocah. Juteknya minta ampun,” seru Mia berapi-api. Gue hanya diam. Ayu keluar kelas dengan wajah yang berbinar. Hah? Dasar cewek aneh.
***
“Rigby!! Sakit tau nggak! Nyebelin banget sih lo!!” seru gue di ujung koridor sekolah. Pagi itu gue langsung ketemu sama musuh bebuyutan gue. Sial banget sih!
“Sorry. Nih buku lo,” katanya dengan senyuman manis terukir di bibirnya. Gue hanya menatapnya aneh sambil menerima buku darinya. Kenapa tuh cowok. Aneh banget! Nggak biasanya kayak gini. Biasanya tuh cowok langsung nyolot. Sedetik kemudian tuh cowok langsung pergi meninggalkan gue yang lagi keheranan melihatnya.
***
“Aura beauty! Tadi kata anak-anak, lo tabrakan lagi ama Rigby? Deuh, tabrakan kok sering gini sih? Hahahaha!!!” kata Rena ketawa, diikuti ketawa anak sekelas.
“Napa kalian? Sering banget sih godain gue? Sama si Rigby lagi? Amit-amit deh!” kata gue sambil menyeruput minuman di kantin. Istirahat itu anak-anak kelas kompak jajan bareng dikantin. Nggak tau kenapa.
“Halah, udah deh. Jangan ngeles. Setelah gue pikir-pikir, nama lo berdua aneh dan unik. Jangan-jangan jodoh lagi!” kita semua hanya melongo nggak jelas mendengar Mia bicara. Lalu mereka ketawa terbahak-bahak. Gue hanya menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Kok gue jadi kepikiran ya, ama si Rigby tadi pagi? Kenapa dia manis banget didepan gue? Secara nggak sengaja gue terpesona juga ama tampang dia waktu senyum tadi. Arghh, jangan sampe gue bisa suka ama dia. Lho, kok gue jadi mikirin dia sih? Plis deh, nggak penting!!
“Aura, gue mau ngomong empat mata sama lo,” tiba-tiba ada suara dari belakang. Dia Ayu. Semua anak-anak menatap dengan kening mengkerut. Lalu ngeliat gue dengan wajah yang seolah berkata-cie, disamper ama cewek jutek nih? Sial. Gak ada yang nolongin gue. Mereka pada sok sibuk lagi. Males banget ngobrol sama dia.
“Ra, gue mo ngomong penting ama lo. Lo jangan marah ya?” katanya setelah kita pindah tempat dan duduk dipojok kantin. Anak-anak dengan santainya berusaha nguping obrolan kita. Gue hanya menatap mereka dengan wajah MARAH.
“Tinggal ngomong aja. Emang lo mo ngomong penting apa? Tumben,”
“Rigby suka sama lo,” gila, nih cewek to the point banget ngomongnya. Hah? Tadi dia ngomong apa?
“What!?”
“Iya, Rigby, sepupu gue itu suka sama lo,” gila, pendengaran gue rusak lagi. Dia ngomong apalagi. Sepupu?
“Ra, kok lo bengong gitu? Lo nggak apa-apa kan? Jadi gimana?”
“Lo ngomong apa sih dari tadi. Sepupu, Rigby suka sama gue, terus, gimana apanya? Maaf Yu, pendengaran gue lagi rusak. Jadi gue nggak ngerti apa yang lo omong..”
“Lo nggak salah denger ko Ra. Gue ini emang sepupu nya Rigby. Terus, Rigby itu suka sama lo sejak pandangan pertama,”
“APA!!!” teriak mereka. Siapa lagi, mereka teman sekelas gue yang sejak dari tadi nguping itu. Gue sama Ayu kompak melihat mereka. Mereka hanya cengir kuda.
“Kata Rigby, nama lo unik. Seunik sifat lo,” lanjut Ayu tanpa meduliin teman sekelas gue yang masih heboh berkasak kusuk. Sial banget teman-teman gue.
“Maksud lo? Gue nggak ngerti,”
“Iya, nama lo itu unik banget, tapi ada yang lebih penting. Sifat lo itu beda dari pada yang lain. Jelas?”
“O,” gue hanya ber oh ria. Apaan lagi maksud tuh cowok ngomong kayak gitu. Sebelum gue mencerna lebih dalam kata-kata dari Ayu, tuh cowok dengan santainya muncul didepan gue tiba-tiba. Bodoh. Bikin gue deg-degan aja. Apa? Deg-degan? Bego! Dan lebih sialnya, si Ayu itu seenaknya ninggalin gue yang sekarang memasang tampang bego. Lalu berbaur dengan teman-teman kelas. Mereka cekikikan dan menggoda gue habis-habisan. Sial, kok jadi gini sih ceritanya?
“Aura Beauty, boleh kan gue jadi cowok lo?” tiba-tiba Rigby menyatakan cintanya sambil berjongkok didepan gue. Ih, apaan sih. Malu tau.
“Terima, terima, terima!!!” teriak teman sekelas gue heboh. Wajah gue gak kalah merahnya dengan warna tomat segaryang ada dipiring nasi goreng. Malu banget!! Plus deg-degan. Terima nggak ya?
“Kalo nggak, gimana?” Tanya gue bego.
“Kalo nggak, gue bakal jadi musuh lo seumur hidup. Mau?”
“Garing,” kata gue manja. Lalu gue menggapai tangan Rigby dan pergi keluar kantin. Semua penghuni kantin heboh bertepuk tangan.
TAMAT
“Nama yang aneh. Maksa banget,”seru salah satu cowok yang berambut keribo.
“Tenang anak-anak. Jangan ribut. Ok, silahkan dilanjutkan,” suara bu Dina berhasil meredakan suara anak-anak itu.
“Gue pindahan dari Paris. Mungkin gitu aja bu,” kata gue singkat lalu menuju kebangku pojok sebelah kanan. Disitu terdapat cewek berambut panjang dengan tampang cueknya, sama seperti gue.
“Terima kasih Aura Beauty. Ok anak-anak, sekarang buka buku Biologi kalian,”
***
“Nama lo unik juga. Gue suka,” kata cewek disamping gue. Waktu itu masih jam pelajaran Biologi.
“Thanks,” jawab gue singkat. Lalu memperhatikan ibu Dina yang sedang menjelaskan tentang Sel. Gue menoleh ke arahnya. Boleh juga nih cewek. Tapi kenapa dia duduk sendirian dipojok ya? Kesannya semua anak-anak disini gak ada yang nemenin dia. Kenapa ya?
“Napa lo ngeliatin gue?”
“Nggak. Siapa lagi. GR banget sih lo,”
“Kenalin. Gue Ayu. Ayu Debora Tritan.”
“O.” jawab gue singkat. “Napa lo duduk sendirian disini? Kok kesannya lo nggak punya temen gini?”
“Bukan urusan lo,” jawabnya dingin, bebarengan dengan bel pergantian pelajaran. Gue hanya menelan ludah. Sial, juteknya ngelebihin gue. Pantes, dia nggak punya temen. Juteknya aja selangit gini. Nyesel deh gue duduk disini.
***
Isitirahat itu gue muter-muter mengelilingi sekolah baru gue yang ternyata luas banget. Sambil ditemani komik Conan ditangan gue, gue melintasi lapangan basket. Banyak cowok-cowok khas pemain basket yang sedang bermain dengan asyiknya. Pastinya, banyak cewek-cewek yang menonton dibangku penonton yang berada disamping kanan-kiri sambil bertepuk tangan dengan hebohnya. Gue nggak berminat menonton basket kampungan itu. Apalagi disamain sama cewek-cewek yang nggak kalah kampungannya itu. Nggak banget deh. Saking asyiknya gue melamun sambil membaca komik, gue menabrak seseorang. Shit!
“Adawww!!!” teriak gue dengan badan jatuh ketanah. Teriakan gue berhasil menyedot perhatian anak-anak yang ada disekitar gue. Termasuk para pemain basket itu. Mereka berhenti bermain sambil menoleh ke arah sumber suara.
“Sakit tau nggak!” seru gue sambil tidak lepas membersihkan lengan gue yang terkena debu. Tangan orang itu mengulurkan tepat di wajah gue. Gue menengadahkan kepala gue, menatap pelaku yang udah nabrak gue sampai jatuh. Oh My God!!! Ternyata makhluk yang sekarang ada didepan gue sambil mengangkat alisnya, mengisyaratkan agar gue menerima uluran tangannya itu, makhluk bernama COWOK. Gile, cakep amat ya nih cowok. Gue sampe lemes nih.
“Mo dibantuin nggak?” Tanya cowok itu. Suaranya sangat lembut.
“E, i, iya.” Ragu-ragu gue menerima uluran tangannya. “Makasih,” kata gue sambil berdiri. Lalu cowok itu pergi begitu saja tanpa memperkenalkan diri. Gue hanya bisa memandanginya dari belakang. Hanya satu kata pendapat gue tentang cowok itu, cool.
***
Sudah satu minggu gue sekolah disini, sudah satu minggu pula gue tau siapa cowok itu. Namanya Rigby. Anak kelas sebelah. Ternyata, dia itu sengak, jutek, dingin, so cool, nyebelinnya setengah mati dan sebagainya. Gue ralat deh perkataan gue seminggu yang lalu tentang cowok itu. Ya wajar aja, pandangan pertama gitu. Emang sih, wajahnya cakep banget. Tapi sifatnya itu lo, amit-amit deh. Akhir-akhir ini, gue sering berantem sama dia. Semua satu sekolah sudah hapal kalau gue sering berantem ama dia. Ya, kaya tom and jerry gitu.
“Aura, lo nggak berantem lagi, sama si Rigby itu? Tumben. Ada apa nih?” Tanya teman sekelas gue, Rena, sambil menggodai gue. Gue hanya menghela napas panjang.
“Bodo amat. Kaya nggak ada kerjaan lagi aja ngurusin cowok tengil itu!”
“Awas lo, kena omongan!” kata Mia ikut nimbrung. Mereka cekikikan. Habis deh gue digodain. Dari ujung pojok sana, ada sepasang mata yang sedang menatap gue. Dia Ayu.
“Ra, kayaknya ada yang lagi ngeliatin kita deh,” kata Rena sambil berbisik di kuping gue.
“Yang tepat, lagi ngeliatin Aura!” seru Mia cablak. Kompak, Rena dan Mischa, yang sedari tadi hanya menjadi pendengar itu, menutup mulut Mia. Gue hanya menggeleng-geleng kepala. Aneh, melihat kelakuan mereka bertiga. Gue ngeliat ke arah Ayu. Yang di liatin malah membuang muka.
“Sengak banget tuh cewek. Emang dia nggak punya temen disini?” Tanya gue
“Beuh… boro-boro punya temen. Punya kenalan aja dia nggak punya. Kita semua kompak benci ama tuh bocah. Juteknya minta ampun,” seru Mia berapi-api. Gue hanya diam. Ayu keluar kelas dengan wajah yang berbinar. Hah? Dasar cewek aneh.
***
“Rigby!! Sakit tau nggak! Nyebelin banget sih lo!!” seru gue di ujung koridor sekolah. Pagi itu gue langsung ketemu sama musuh bebuyutan gue. Sial banget sih!
“Sorry. Nih buku lo,” katanya dengan senyuman manis terukir di bibirnya. Gue hanya menatapnya aneh sambil menerima buku darinya. Kenapa tuh cowok. Aneh banget! Nggak biasanya kayak gini. Biasanya tuh cowok langsung nyolot. Sedetik kemudian tuh cowok langsung pergi meninggalkan gue yang lagi keheranan melihatnya.
***
“Aura beauty! Tadi kata anak-anak, lo tabrakan lagi ama Rigby? Deuh, tabrakan kok sering gini sih? Hahahaha!!!” kata Rena ketawa, diikuti ketawa anak sekelas.
“Napa kalian? Sering banget sih godain gue? Sama si Rigby lagi? Amit-amit deh!” kata gue sambil menyeruput minuman di kantin. Istirahat itu anak-anak kelas kompak jajan bareng dikantin. Nggak tau kenapa.
“Halah, udah deh. Jangan ngeles. Setelah gue pikir-pikir, nama lo berdua aneh dan unik. Jangan-jangan jodoh lagi!” kita semua hanya melongo nggak jelas mendengar Mia bicara. Lalu mereka ketawa terbahak-bahak. Gue hanya menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Kok gue jadi kepikiran ya, ama si Rigby tadi pagi? Kenapa dia manis banget didepan gue? Secara nggak sengaja gue terpesona juga ama tampang dia waktu senyum tadi. Arghh, jangan sampe gue bisa suka ama dia. Lho, kok gue jadi mikirin dia sih? Plis deh, nggak penting!!
“Aura, gue mau ngomong empat mata sama lo,” tiba-tiba ada suara dari belakang. Dia Ayu. Semua anak-anak menatap dengan kening mengkerut. Lalu ngeliat gue dengan wajah yang seolah berkata-cie, disamper ama cewek jutek nih? Sial. Gak ada yang nolongin gue. Mereka pada sok sibuk lagi. Males banget ngobrol sama dia.
“Ra, gue mo ngomong penting ama lo. Lo jangan marah ya?” katanya setelah kita pindah tempat dan duduk dipojok kantin. Anak-anak dengan santainya berusaha nguping obrolan kita. Gue hanya menatap mereka dengan wajah MARAH.
“Tinggal ngomong aja. Emang lo mo ngomong penting apa? Tumben,”
“Rigby suka sama lo,” gila, nih cewek to the point banget ngomongnya. Hah? Tadi dia ngomong apa?
“What!?”
“Iya, Rigby, sepupu gue itu suka sama lo,” gila, pendengaran gue rusak lagi. Dia ngomong apalagi. Sepupu?
“Ra, kok lo bengong gitu? Lo nggak apa-apa kan? Jadi gimana?”
“Lo ngomong apa sih dari tadi. Sepupu, Rigby suka sama gue, terus, gimana apanya? Maaf Yu, pendengaran gue lagi rusak. Jadi gue nggak ngerti apa yang lo omong..”
“Lo nggak salah denger ko Ra. Gue ini emang sepupu nya Rigby. Terus, Rigby itu suka sama lo sejak pandangan pertama,”
“APA!!!” teriak mereka. Siapa lagi, mereka teman sekelas gue yang sejak dari tadi nguping itu. Gue sama Ayu kompak melihat mereka. Mereka hanya cengir kuda.
“Kata Rigby, nama lo unik. Seunik sifat lo,” lanjut Ayu tanpa meduliin teman sekelas gue yang masih heboh berkasak kusuk. Sial banget teman-teman gue.
“Maksud lo? Gue nggak ngerti,”
“Iya, nama lo itu unik banget, tapi ada yang lebih penting. Sifat lo itu beda dari pada yang lain. Jelas?”
“O,” gue hanya ber oh ria. Apaan lagi maksud tuh cowok ngomong kayak gitu. Sebelum gue mencerna lebih dalam kata-kata dari Ayu, tuh cowok dengan santainya muncul didepan gue tiba-tiba. Bodoh. Bikin gue deg-degan aja. Apa? Deg-degan? Bego! Dan lebih sialnya, si Ayu itu seenaknya ninggalin gue yang sekarang memasang tampang bego. Lalu berbaur dengan teman-teman kelas. Mereka cekikikan dan menggoda gue habis-habisan. Sial, kok jadi gini sih ceritanya?
“Aura Beauty, boleh kan gue jadi cowok lo?” tiba-tiba Rigby menyatakan cintanya sambil berjongkok didepan gue. Ih, apaan sih. Malu tau.
“Terima, terima, terima!!!” teriak teman sekelas gue heboh. Wajah gue gak kalah merahnya dengan warna tomat segaryang ada dipiring nasi goreng. Malu banget!! Plus deg-degan. Terima nggak ya?
“Kalo nggak, gimana?” Tanya gue bego.
“Kalo nggak, gue bakal jadi musuh lo seumur hidup. Mau?”
“Garing,” kata gue manja. Lalu gue menggapai tangan Rigby dan pergi keluar kantin. Semua penghuni kantin heboh bertepuk tangan.
TAMAT
KARMA CINTA
Sudah 3 minggu dari putus cinta, aku masih saja memikirkan Revan, cowok yang memiliki sejuta bualan demi membuatku tersenyum. Cowok yang berhasil membuatku selalu merindukannya. Selalu berada disampingku, kala aku membutuhkannya. Tapi sekarang, aku tidak bisa lagi memilikinya. Tidak bisa lagi melihat senyum manisnya. Tak jarang aku selalu menitikkan air mata begitu mengingatnya. Ironis memang. Sejujurnya, jauh dilubuk hatiku, aku masih sangat menyayanginya. Masih enggan untuk melupakannya. Apakah cinta ku begitu kuat terhadapnya? Apakah cinta ini begitu kuat merasukku hingga aku tak bisa melupakannya? Aku bingung bila pertanyaan itu menghampiriku. Oh, kini aku bisa merasakan dengan jelas betapa sengsaranya mengalami cinta mati! God, help me!!!
Seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada yang berubah, tidak ada yang spesial. Sinar rembulan tetap memancarkan sinarnya dengan manis keseluruh jagad raya. Seperti biasa, dalam balutan selimut yang menutupi sebagian tubuhku, aku menangis untuk cowokku, yang telah aku putusin tanpa sebab dan alasan yang logis. Mungkin karena egoku yang terlalu mendominasi hatiku saat itu. Entah kenapa, aku termakan omongan teman-temanku tentang reputasi dia. Padahal itu semua tidak benar. Aku sungguh sangat menyesal. Nasi telah menjadi bubur. Benar apa kata orang bijak, ikutilah kata hatimu, sebab kata hati tidak pernah salah.
***
“Rhea? Lo nangis lagi?” sapa Tania siang itu dikelas. Aku menolehnya sambil menghapus air mataku. Spontan aku langsung memeluk sobatku. Meluapkan semua emosiku ke pelukannya. Tania mengelus-elus pundakku dengan lembut. Kini beban ku terasa lebih ringan.
“Sudah ya Rhe. Lo harus kuat. Jangan gara-gara cowok lo jadi lemah kayak gini. Gue tahu, lo cinta mati sama dia. Tapi bukan begini caranya. Itu hanya akan menyiksa lo. Oke?” ujarnya lembut sambil melepaskan pelukannya, dan menatapku sambil tersenyum manis. Aku pun membalasnya dengan senyuman paling manis.
“Makasih ya Tan, lo mau minjemin bahu lo untuk gue, yah, walaupun dengan cara tiba-tiba,”kataku mencoba mencairkan suasana. Tania tertawa.
“Hahaha, santai aja lagi say. Nah gitu dong, senyum. Jadi cantik kan lo? Oia, gimana kalo kita kekantin, atau nyari cowok-cowok kelas 3? Gimana?”tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku hanya bisa memandanginya dengan kening berkerut. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengiyakan ajakannya.
***
Mungkin waktu 2 bulan cukup untuk aku bisa melupakan Revan. Perlahan tapi pasti. Kata orang-orang, obat paling manjur bila sedang patah hati adalah, dengan cara jatuh cinta. Setengah tidak percaya. Tapi kini aku mencobanya. Tidak ada salahnya bukan?
Akhir-akhir ini aku sedang dekat dengan kakak kelas disekolahku, bernama Rio. Orangnya baik, sopan, dan pastinya bisa membuatku kembali tersenyum. Tania yang memperkenalkan aku padanya. Aku hanya menurut. Sudah saatnya aku harus bisa belajar melupakan dia. Tepatnya melupakan masa lalu ku. Aku sudah puas dengan masa lalu ku, dan kini aku menikmati masa sekarang.
***
Minggu ini aku jadian sama Rio. Terlalu cepat memang. Hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk aku mengenalnya lebih jauh. Aku hanya bisa berdoa. Mungkin ini keputusan yang terbaik, menerima Rio menjadi pacarku.
Malam itu dibalkon kamar, aku menatap bintang dilangit. Dengan hati yang ceria tentunya. Tidak ada lagi tangisan yang menghujani pipiku. Tidak ada lagi sifat uring-uringan yang selalu menggangguku. Sedetik kemudian, terdengar suara dari hp ku sedang mengalun lembut. Ada sms. Aku langsung menghampiri kasur untuk meraih hp ku dan langsung membukanya.
Rhe…
Dari Revan. Aku terdiam. Menatap layar hp begitu lama. Antara senang dan sedih. Sudah sekian lama akhirnya dia menghubungiku. Entah kenapa, bulir-bulir rindu begitu cepat mengikatku. Rasa kangen pun tidak bisa aku hindari lagi. Yang bisa aku lakukan, hanya duduk terdiam memikirkan apa yang harus aku lakukan. Yang bisa aku lakukan hanya menangis dan menangis. Rhe, lo gak boleh kayak gini! Sekarang lo udah punya Rio. Lo harus bisa melupakan Revan. Batinku bergemuruh hebat. Akhirnya aku putuskan tidak membalas sms dari Revan.
***
Aku dan Rio menghabiskan malam minggu itu dengan duduk-duduk ditepi pantai. Angin malam dipantai berhasil membuat aku tenang dan sejenak melupakan Revan. Ups, sejenak? Kayaknya aku masih terbawa suasana dengan kehadiran sms dari Revan tadi malam. Tapi, angin malam tidak sepenuhnya membuatku berhasil melupakannya. Sampai detik ini, disamping Rio, aku masih saja memikirkan dia? Oh no! apa yang terjadi denganku. Tapi aku harus melupakan Revan, dan belajar untuk mencintai Rio.
“Rhe, kok melamun? Jadi boleh nggak?”
“Eh, oh, apanya yang boleh?”
“Ya ampun Rhe, dari tadi pikiran kmu ada dimana sih? Iya, tadi aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh?” tanyanya sambil menatapku. Aku hanya mengangguk dengan tersenyum manis. Tanpa sadar, aku begitu terpesona melihat tampang Rio mengenakan jacket abu-abu. Begitu hangat dimataku. Entah perasaan apa yang sekarang telah mendominasi hatiku. Apakah sekarang aku benar-benar jatuh cinta sama dia? Yah, tidak salah lagi. Aku begitu mencintainya.
“Rhe, sebelumnya maafin aku. Kamu marah sama aku juga aku terima. Mungkin aku jahat dimata kamu. Mungkin aku egois dengan perasaan aku sendiri. Tapi ini semua harus terjadi. Rhea, aku sayang sama kamu, tapi cuma sebatas sayang aku ke ade,”
“Ma-maksud kamu apa sih? Aku dari tadi nggak ngerti apa yang kamu omongin,”
“Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya Rhe. Ternyata, aku masih sayang sama mantanku, Aura. Tolong ngertiin ya Rhe, aku sama dia sudah berjalan 2 tahun lamanya. Aku masih sayang dia,”
Bagai karang diterpa ombak. Kaget. Sedih. Kecewa. Marah. Semua rasa itu campur aduk dan bergemuruh menjadi satu didalam hatiku. Aku hanya bisa terdiam. Begitu shock mendengar langsung kata-kata yang keluar dari mulutnya. Setetes air mata jatuh kepipiku. Lalu semakin deras, dan semakin terasa sesak hati ini.
“O-oke, kalo itu keputusan kamu. Aku terima, walaupun sangat berat untuk aku bisa terima semua kenyataan ini,” kataku sesenggukan, lalu dengan cepat bangkit dari tempat dudukku, dan pergi meninggalkannya.
“Rhe! Maafin aku! Tapi aku sayang sama kamu!”
Aku berhenti ditempat. Kemudian menoleh ke arahya. “Percuma kamu sayang sama aku, meskipun rasa sayang itu cuma sebatas rasa sayang ke ade. Mendingan, kamu simpan rasa sayang itu untuk mantan kamu, karena dia yang lebih pantes mendapatkan rasa sayang itu. Rio, aku bahagia, bila melihat orang yang aku sayangi, bahagia,” kataku sambil berlalu. meninggalkan Rio yang sedang diam terpaku dalam tempat. Ada tergores rasa menyesal diraut wajahnya.
***
Malam itu dibawah sinar rembulan, aku menangis seorang diri. Menangisi semua kejadian yang menimpaku. Oh, hidup terasa tidak adil bagiku. Kenapa disaat aku sedang mulai jatuh cinta padanya, dia begitu saja pergi meninggalkan aku? Apakah dunia sedang membalaskan dendamnya terhadapku? Apakah aku sekarang terkena karma? Yah, mungkin tepatnya aku terkena karma cinta. Huaaaaahhhhh…..
TAMAT
Seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada yang berubah, tidak ada yang spesial. Sinar rembulan tetap memancarkan sinarnya dengan manis keseluruh jagad raya. Seperti biasa, dalam balutan selimut yang menutupi sebagian tubuhku, aku menangis untuk cowokku, yang telah aku putusin tanpa sebab dan alasan yang logis. Mungkin karena egoku yang terlalu mendominasi hatiku saat itu. Entah kenapa, aku termakan omongan teman-temanku tentang reputasi dia. Padahal itu semua tidak benar. Aku sungguh sangat menyesal. Nasi telah menjadi bubur. Benar apa kata orang bijak, ikutilah kata hatimu, sebab kata hati tidak pernah salah.
***
“Rhea? Lo nangis lagi?” sapa Tania siang itu dikelas. Aku menolehnya sambil menghapus air mataku. Spontan aku langsung memeluk sobatku. Meluapkan semua emosiku ke pelukannya. Tania mengelus-elus pundakku dengan lembut. Kini beban ku terasa lebih ringan.
“Sudah ya Rhe. Lo harus kuat. Jangan gara-gara cowok lo jadi lemah kayak gini. Gue tahu, lo cinta mati sama dia. Tapi bukan begini caranya. Itu hanya akan menyiksa lo. Oke?” ujarnya lembut sambil melepaskan pelukannya, dan menatapku sambil tersenyum manis. Aku pun membalasnya dengan senyuman paling manis.
“Makasih ya Tan, lo mau minjemin bahu lo untuk gue, yah, walaupun dengan cara tiba-tiba,”kataku mencoba mencairkan suasana. Tania tertawa.
“Hahaha, santai aja lagi say. Nah gitu dong, senyum. Jadi cantik kan lo? Oia, gimana kalo kita kekantin, atau nyari cowok-cowok kelas 3? Gimana?”tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku hanya bisa memandanginya dengan kening berkerut. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengiyakan ajakannya.
***
Mungkin waktu 2 bulan cukup untuk aku bisa melupakan Revan. Perlahan tapi pasti. Kata orang-orang, obat paling manjur bila sedang patah hati adalah, dengan cara jatuh cinta. Setengah tidak percaya. Tapi kini aku mencobanya. Tidak ada salahnya bukan?
Akhir-akhir ini aku sedang dekat dengan kakak kelas disekolahku, bernama Rio. Orangnya baik, sopan, dan pastinya bisa membuatku kembali tersenyum. Tania yang memperkenalkan aku padanya. Aku hanya menurut. Sudah saatnya aku harus bisa belajar melupakan dia. Tepatnya melupakan masa lalu ku. Aku sudah puas dengan masa lalu ku, dan kini aku menikmati masa sekarang.
***
Minggu ini aku jadian sama Rio. Terlalu cepat memang. Hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk aku mengenalnya lebih jauh. Aku hanya bisa berdoa. Mungkin ini keputusan yang terbaik, menerima Rio menjadi pacarku.
Malam itu dibalkon kamar, aku menatap bintang dilangit. Dengan hati yang ceria tentunya. Tidak ada lagi tangisan yang menghujani pipiku. Tidak ada lagi sifat uring-uringan yang selalu menggangguku. Sedetik kemudian, terdengar suara dari hp ku sedang mengalun lembut. Ada sms. Aku langsung menghampiri kasur untuk meraih hp ku dan langsung membukanya.
Rhe…
Dari Revan. Aku terdiam. Menatap layar hp begitu lama. Antara senang dan sedih. Sudah sekian lama akhirnya dia menghubungiku. Entah kenapa, bulir-bulir rindu begitu cepat mengikatku. Rasa kangen pun tidak bisa aku hindari lagi. Yang bisa aku lakukan, hanya duduk terdiam memikirkan apa yang harus aku lakukan. Yang bisa aku lakukan hanya menangis dan menangis. Rhe, lo gak boleh kayak gini! Sekarang lo udah punya Rio. Lo harus bisa melupakan Revan. Batinku bergemuruh hebat. Akhirnya aku putuskan tidak membalas sms dari Revan.
***
Aku dan Rio menghabiskan malam minggu itu dengan duduk-duduk ditepi pantai. Angin malam dipantai berhasil membuat aku tenang dan sejenak melupakan Revan. Ups, sejenak? Kayaknya aku masih terbawa suasana dengan kehadiran sms dari Revan tadi malam. Tapi, angin malam tidak sepenuhnya membuatku berhasil melupakannya. Sampai detik ini, disamping Rio, aku masih saja memikirkan dia? Oh no! apa yang terjadi denganku. Tapi aku harus melupakan Revan, dan belajar untuk mencintai Rio.
“Rhe, kok melamun? Jadi boleh nggak?”
“Eh, oh, apanya yang boleh?”
“Ya ampun Rhe, dari tadi pikiran kmu ada dimana sih? Iya, tadi aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh?” tanyanya sambil menatapku. Aku hanya mengangguk dengan tersenyum manis. Tanpa sadar, aku begitu terpesona melihat tampang Rio mengenakan jacket abu-abu. Begitu hangat dimataku. Entah perasaan apa yang sekarang telah mendominasi hatiku. Apakah sekarang aku benar-benar jatuh cinta sama dia? Yah, tidak salah lagi. Aku begitu mencintainya.
“Rhe, sebelumnya maafin aku. Kamu marah sama aku juga aku terima. Mungkin aku jahat dimata kamu. Mungkin aku egois dengan perasaan aku sendiri. Tapi ini semua harus terjadi. Rhea, aku sayang sama kamu, tapi cuma sebatas sayang aku ke ade,”
“Ma-maksud kamu apa sih? Aku dari tadi nggak ngerti apa yang kamu omongin,”
“Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya Rhe. Ternyata, aku masih sayang sama mantanku, Aura. Tolong ngertiin ya Rhe, aku sama dia sudah berjalan 2 tahun lamanya. Aku masih sayang dia,”
Bagai karang diterpa ombak. Kaget. Sedih. Kecewa. Marah. Semua rasa itu campur aduk dan bergemuruh menjadi satu didalam hatiku. Aku hanya bisa terdiam. Begitu shock mendengar langsung kata-kata yang keluar dari mulutnya. Setetes air mata jatuh kepipiku. Lalu semakin deras, dan semakin terasa sesak hati ini.
“O-oke, kalo itu keputusan kamu. Aku terima, walaupun sangat berat untuk aku bisa terima semua kenyataan ini,” kataku sesenggukan, lalu dengan cepat bangkit dari tempat dudukku, dan pergi meninggalkannya.
“Rhe! Maafin aku! Tapi aku sayang sama kamu!”
Aku berhenti ditempat. Kemudian menoleh ke arahya. “Percuma kamu sayang sama aku, meskipun rasa sayang itu cuma sebatas rasa sayang ke ade. Mendingan, kamu simpan rasa sayang itu untuk mantan kamu, karena dia yang lebih pantes mendapatkan rasa sayang itu. Rio, aku bahagia, bila melihat orang yang aku sayangi, bahagia,” kataku sambil berlalu. meninggalkan Rio yang sedang diam terpaku dalam tempat. Ada tergores rasa menyesal diraut wajahnya.
***
Malam itu dibawah sinar rembulan, aku menangis seorang diri. Menangisi semua kejadian yang menimpaku. Oh, hidup terasa tidak adil bagiku. Kenapa disaat aku sedang mulai jatuh cinta padanya, dia begitu saja pergi meninggalkan aku? Apakah dunia sedang membalaskan dendamnya terhadapku? Apakah aku sekarang terkena karma? Yah, mungkin tepatnya aku terkena karma cinta. Huaaaaahhhhh…..
TAMAT
Langganan:
Komentar (Atom)
