“Huahahaha!!!” pagi itu suasana kelas XI IPA1 dipenuhi ketawa anak-anak. Semua penghuni kelas menertawakan gue-yang baru saja memperkenalkan diri didepan mereka, karena gue murid baru disini. Gue hanya memasang tampang masa bodo dan cuek stadium akhir. Gue merasa mereka menertawakan gue karena iri dengan nama gue yang asli emang unik ini. berpikirlah positif untuk hari ini.
“Nama yang aneh. Maksa banget,”seru salah satu cowok yang berambut keribo.
“Tenang anak-anak. Jangan ribut. Ok, silahkan dilanjutkan,” suara bu Dina berhasil meredakan suara anak-anak itu.
“Gue pindahan dari Paris. Mungkin gitu aja bu,” kata gue singkat lalu menuju kebangku pojok sebelah kanan. Disitu terdapat cewek berambut panjang dengan tampang cueknya, sama seperti gue.
“Terima kasih Aura Beauty. Ok anak-anak, sekarang buka buku Biologi kalian,”
***
“Nama lo unik juga. Gue suka,” kata cewek disamping gue. Waktu itu masih jam pelajaran Biologi.
“Thanks,” jawab gue singkat. Lalu memperhatikan ibu Dina yang sedang menjelaskan tentang Sel. Gue menoleh ke arahnya. Boleh juga nih cewek. Tapi kenapa dia duduk sendirian dipojok ya? Kesannya semua anak-anak disini gak ada yang nemenin dia. Kenapa ya?
“Napa lo ngeliatin gue?”
“Nggak. Siapa lagi. GR banget sih lo,”
“Kenalin. Gue Ayu. Ayu Debora Tritan.”
“O.” jawab gue singkat. “Napa lo duduk sendirian disini? Kok kesannya lo nggak punya temen gini?”
“Bukan urusan lo,” jawabnya dingin, bebarengan dengan bel pergantian pelajaran. Gue hanya menelan ludah. Sial, juteknya ngelebihin gue. Pantes, dia nggak punya temen. Juteknya aja selangit gini. Nyesel deh gue duduk disini.
***
Isitirahat itu gue muter-muter mengelilingi sekolah baru gue yang ternyata luas banget. Sambil ditemani komik Conan ditangan gue, gue melintasi lapangan basket. Banyak cowok-cowok khas pemain basket yang sedang bermain dengan asyiknya. Pastinya, banyak cewek-cewek yang menonton dibangku penonton yang berada disamping kanan-kiri sambil bertepuk tangan dengan hebohnya. Gue nggak berminat menonton basket kampungan itu. Apalagi disamain sama cewek-cewek yang nggak kalah kampungannya itu. Nggak banget deh. Saking asyiknya gue melamun sambil membaca komik, gue menabrak seseorang. Shit!
“Adawww!!!” teriak gue dengan badan jatuh ketanah. Teriakan gue berhasil menyedot perhatian anak-anak yang ada disekitar gue. Termasuk para pemain basket itu. Mereka berhenti bermain sambil menoleh ke arah sumber suara.
“Sakit tau nggak!” seru gue sambil tidak lepas membersihkan lengan gue yang terkena debu. Tangan orang itu mengulurkan tepat di wajah gue. Gue menengadahkan kepala gue, menatap pelaku yang udah nabrak gue sampai jatuh. Oh My God!!! Ternyata makhluk yang sekarang ada didepan gue sambil mengangkat alisnya, mengisyaratkan agar gue menerima uluran tangannya itu, makhluk bernama COWOK. Gile, cakep amat ya nih cowok. Gue sampe lemes nih.
“Mo dibantuin nggak?” Tanya cowok itu. Suaranya sangat lembut.
“E, i, iya.” Ragu-ragu gue menerima uluran tangannya. “Makasih,” kata gue sambil berdiri. Lalu cowok itu pergi begitu saja tanpa memperkenalkan diri. Gue hanya bisa memandanginya dari belakang. Hanya satu kata pendapat gue tentang cowok itu, cool.
***
Sudah satu minggu gue sekolah disini, sudah satu minggu pula gue tau siapa cowok itu. Namanya Rigby. Anak kelas sebelah. Ternyata, dia itu sengak, jutek, dingin, so cool, nyebelinnya setengah mati dan sebagainya. Gue ralat deh perkataan gue seminggu yang lalu tentang cowok itu. Ya wajar aja, pandangan pertama gitu. Emang sih, wajahnya cakep banget. Tapi sifatnya itu lo, amit-amit deh. Akhir-akhir ini, gue sering berantem sama dia. Semua satu sekolah sudah hapal kalau gue sering berantem ama dia. Ya, kaya tom and jerry gitu.
“Aura, lo nggak berantem lagi, sama si Rigby itu? Tumben. Ada apa nih?” Tanya teman sekelas gue, Rena, sambil menggodai gue. Gue hanya menghela napas panjang.
“Bodo amat. Kaya nggak ada kerjaan lagi aja ngurusin cowok tengil itu!”
“Awas lo, kena omongan!” kata Mia ikut nimbrung. Mereka cekikikan. Habis deh gue digodain. Dari ujung pojok sana, ada sepasang mata yang sedang menatap gue. Dia Ayu.
“Ra, kayaknya ada yang lagi ngeliatin kita deh,” kata Rena sambil berbisik di kuping gue.
“Yang tepat, lagi ngeliatin Aura!” seru Mia cablak. Kompak, Rena dan Mischa, yang sedari tadi hanya menjadi pendengar itu, menutup mulut Mia. Gue hanya menggeleng-geleng kepala. Aneh, melihat kelakuan mereka bertiga. Gue ngeliat ke arah Ayu. Yang di liatin malah membuang muka.
“Sengak banget tuh cewek. Emang dia nggak punya temen disini?” Tanya gue
“Beuh… boro-boro punya temen. Punya kenalan aja dia nggak punya. Kita semua kompak benci ama tuh bocah. Juteknya minta ampun,” seru Mia berapi-api. Gue hanya diam. Ayu keluar kelas dengan wajah yang berbinar. Hah? Dasar cewek aneh.
***
“Rigby!! Sakit tau nggak! Nyebelin banget sih lo!!” seru gue di ujung koridor sekolah. Pagi itu gue langsung ketemu sama musuh bebuyutan gue. Sial banget sih!
“Sorry. Nih buku lo,” katanya dengan senyuman manis terukir di bibirnya. Gue hanya menatapnya aneh sambil menerima buku darinya. Kenapa tuh cowok. Aneh banget! Nggak biasanya kayak gini. Biasanya tuh cowok langsung nyolot. Sedetik kemudian tuh cowok langsung pergi meninggalkan gue yang lagi keheranan melihatnya.
***
“Aura beauty! Tadi kata anak-anak, lo tabrakan lagi ama Rigby? Deuh, tabrakan kok sering gini sih? Hahahaha!!!” kata Rena ketawa, diikuti ketawa anak sekelas.
“Napa kalian? Sering banget sih godain gue? Sama si Rigby lagi? Amit-amit deh!” kata gue sambil menyeruput minuman di kantin. Istirahat itu anak-anak kelas kompak jajan bareng dikantin. Nggak tau kenapa.
“Halah, udah deh. Jangan ngeles. Setelah gue pikir-pikir, nama lo berdua aneh dan unik. Jangan-jangan jodoh lagi!” kita semua hanya melongo nggak jelas mendengar Mia bicara. Lalu mereka ketawa terbahak-bahak. Gue hanya menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Kok gue jadi kepikiran ya, ama si Rigby tadi pagi? Kenapa dia manis banget didepan gue? Secara nggak sengaja gue terpesona juga ama tampang dia waktu senyum tadi. Arghh, jangan sampe gue bisa suka ama dia. Lho, kok gue jadi mikirin dia sih? Plis deh, nggak penting!!
“Aura, gue mau ngomong empat mata sama lo,” tiba-tiba ada suara dari belakang. Dia Ayu. Semua anak-anak menatap dengan kening mengkerut. Lalu ngeliat gue dengan wajah yang seolah berkata-cie, disamper ama cewek jutek nih? Sial. Gak ada yang nolongin gue. Mereka pada sok sibuk lagi. Males banget ngobrol sama dia.
“Ra, gue mo ngomong penting ama lo. Lo jangan marah ya?” katanya setelah kita pindah tempat dan duduk dipojok kantin. Anak-anak dengan santainya berusaha nguping obrolan kita. Gue hanya menatap mereka dengan wajah MARAH.
“Tinggal ngomong aja. Emang lo mo ngomong penting apa? Tumben,”
“Rigby suka sama lo,” gila, nih cewek to the point banget ngomongnya. Hah? Tadi dia ngomong apa?
“What!?”
“Iya, Rigby, sepupu gue itu suka sama lo,” gila, pendengaran gue rusak lagi. Dia ngomong apalagi. Sepupu?
“Ra, kok lo bengong gitu? Lo nggak apa-apa kan? Jadi gimana?”
“Lo ngomong apa sih dari tadi. Sepupu, Rigby suka sama gue, terus, gimana apanya? Maaf Yu, pendengaran gue lagi rusak. Jadi gue nggak ngerti apa yang lo omong..”
“Lo nggak salah denger ko Ra. Gue ini emang sepupu nya Rigby. Terus, Rigby itu suka sama lo sejak pandangan pertama,”
“APA!!!” teriak mereka. Siapa lagi, mereka teman sekelas gue yang sejak dari tadi nguping itu. Gue sama Ayu kompak melihat mereka. Mereka hanya cengir kuda.
“Kata Rigby, nama lo unik. Seunik sifat lo,” lanjut Ayu tanpa meduliin teman sekelas gue yang masih heboh berkasak kusuk. Sial banget teman-teman gue.
“Maksud lo? Gue nggak ngerti,”
“Iya, nama lo itu unik banget, tapi ada yang lebih penting. Sifat lo itu beda dari pada yang lain. Jelas?”
“O,” gue hanya ber oh ria. Apaan lagi maksud tuh cowok ngomong kayak gitu. Sebelum gue mencerna lebih dalam kata-kata dari Ayu, tuh cowok dengan santainya muncul didepan gue tiba-tiba. Bodoh. Bikin gue deg-degan aja. Apa? Deg-degan? Bego! Dan lebih sialnya, si Ayu itu seenaknya ninggalin gue yang sekarang memasang tampang bego. Lalu berbaur dengan teman-teman kelas. Mereka cekikikan dan menggoda gue habis-habisan. Sial, kok jadi gini sih ceritanya?
“Aura Beauty, boleh kan gue jadi cowok lo?” tiba-tiba Rigby menyatakan cintanya sambil berjongkok didepan gue. Ih, apaan sih. Malu tau.
“Terima, terima, terima!!!” teriak teman sekelas gue heboh. Wajah gue gak kalah merahnya dengan warna tomat segaryang ada dipiring nasi goreng. Malu banget!! Plus deg-degan. Terima nggak ya?
“Kalo nggak, gimana?” Tanya gue bego.
“Kalo nggak, gue bakal jadi musuh lo seumur hidup. Mau?”
“Garing,” kata gue manja. Lalu gue menggapai tangan Rigby dan pergi keluar kantin. Semua penghuni kantin heboh bertepuk tangan.
TAMAT
Minggu, 05 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar