Sudah 3 minggu dari putus cinta, aku masih saja memikirkan Revan, cowok yang memiliki sejuta bualan demi membuatku tersenyum. Cowok yang berhasil membuatku selalu merindukannya. Selalu berada disampingku, kala aku membutuhkannya. Tapi sekarang, aku tidak bisa lagi memilikinya. Tidak bisa lagi melihat senyum manisnya. Tak jarang aku selalu menitikkan air mata begitu mengingatnya. Ironis memang. Sejujurnya, jauh dilubuk hatiku, aku masih sangat menyayanginya. Masih enggan untuk melupakannya. Apakah cinta ku begitu kuat terhadapnya? Apakah cinta ini begitu kuat merasukku hingga aku tak bisa melupakannya? Aku bingung bila pertanyaan itu menghampiriku. Oh, kini aku bisa merasakan dengan jelas betapa sengsaranya mengalami cinta mati! God, help me!!!
Seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada yang berubah, tidak ada yang spesial. Sinar rembulan tetap memancarkan sinarnya dengan manis keseluruh jagad raya. Seperti biasa, dalam balutan selimut yang menutupi sebagian tubuhku, aku menangis untuk cowokku, yang telah aku putusin tanpa sebab dan alasan yang logis. Mungkin karena egoku yang terlalu mendominasi hatiku saat itu. Entah kenapa, aku termakan omongan teman-temanku tentang reputasi dia. Padahal itu semua tidak benar. Aku sungguh sangat menyesal. Nasi telah menjadi bubur. Benar apa kata orang bijak, ikutilah kata hatimu, sebab kata hati tidak pernah salah.
***
“Rhea? Lo nangis lagi?” sapa Tania siang itu dikelas. Aku menolehnya sambil menghapus air mataku. Spontan aku langsung memeluk sobatku. Meluapkan semua emosiku ke pelukannya. Tania mengelus-elus pundakku dengan lembut. Kini beban ku terasa lebih ringan.
“Sudah ya Rhe. Lo harus kuat. Jangan gara-gara cowok lo jadi lemah kayak gini. Gue tahu, lo cinta mati sama dia. Tapi bukan begini caranya. Itu hanya akan menyiksa lo. Oke?” ujarnya lembut sambil melepaskan pelukannya, dan menatapku sambil tersenyum manis. Aku pun membalasnya dengan senyuman paling manis.
“Makasih ya Tan, lo mau minjemin bahu lo untuk gue, yah, walaupun dengan cara tiba-tiba,”kataku mencoba mencairkan suasana. Tania tertawa.
“Hahaha, santai aja lagi say. Nah gitu dong, senyum. Jadi cantik kan lo? Oia, gimana kalo kita kekantin, atau nyari cowok-cowok kelas 3? Gimana?”tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku hanya bisa memandanginya dengan kening berkerut. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengiyakan ajakannya.
***
Mungkin waktu 2 bulan cukup untuk aku bisa melupakan Revan. Perlahan tapi pasti. Kata orang-orang, obat paling manjur bila sedang patah hati adalah, dengan cara jatuh cinta. Setengah tidak percaya. Tapi kini aku mencobanya. Tidak ada salahnya bukan?
Akhir-akhir ini aku sedang dekat dengan kakak kelas disekolahku, bernama Rio. Orangnya baik, sopan, dan pastinya bisa membuatku kembali tersenyum. Tania yang memperkenalkan aku padanya. Aku hanya menurut. Sudah saatnya aku harus bisa belajar melupakan dia. Tepatnya melupakan masa lalu ku. Aku sudah puas dengan masa lalu ku, dan kini aku menikmati masa sekarang.
***
Minggu ini aku jadian sama Rio. Terlalu cepat memang. Hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk aku mengenalnya lebih jauh. Aku hanya bisa berdoa. Mungkin ini keputusan yang terbaik, menerima Rio menjadi pacarku.
Malam itu dibalkon kamar, aku menatap bintang dilangit. Dengan hati yang ceria tentunya. Tidak ada lagi tangisan yang menghujani pipiku. Tidak ada lagi sifat uring-uringan yang selalu menggangguku. Sedetik kemudian, terdengar suara dari hp ku sedang mengalun lembut. Ada sms. Aku langsung menghampiri kasur untuk meraih hp ku dan langsung membukanya.
Rhe…
Dari Revan. Aku terdiam. Menatap layar hp begitu lama. Antara senang dan sedih. Sudah sekian lama akhirnya dia menghubungiku. Entah kenapa, bulir-bulir rindu begitu cepat mengikatku. Rasa kangen pun tidak bisa aku hindari lagi. Yang bisa aku lakukan, hanya duduk terdiam memikirkan apa yang harus aku lakukan. Yang bisa aku lakukan hanya menangis dan menangis. Rhe, lo gak boleh kayak gini! Sekarang lo udah punya Rio. Lo harus bisa melupakan Revan. Batinku bergemuruh hebat. Akhirnya aku putuskan tidak membalas sms dari Revan.
***
Aku dan Rio menghabiskan malam minggu itu dengan duduk-duduk ditepi pantai. Angin malam dipantai berhasil membuat aku tenang dan sejenak melupakan Revan. Ups, sejenak? Kayaknya aku masih terbawa suasana dengan kehadiran sms dari Revan tadi malam. Tapi, angin malam tidak sepenuhnya membuatku berhasil melupakannya. Sampai detik ini, disamping Rio, aku masih saja memikirkan dia? Oh no! apa yang terjadi denganku. Tapi aku harus melupakan Revan, dan belajar untuk mencintai Rio.
“Rhe, kok melamun? Jadi boleh nggak?”
“Eh, oh, apanya yang boleh?”
“Ya ampun Rhe, dari tadi pikiran kmu ada dimana sih? Iya, tadi aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh?” tanyanya sambil menatapku. Aku hanya mengangguk dengan tersenyum manis. Tanpa sadar, aku begitu terpesona melihat tampang Rio mengenakan jacket abu-abu. Begitu hangat dimataku. Entah perasaan apa yang sekarang telah mendominasi hatiku. Apakah sekarang aku benar-benar jatuh cinta sama dia? Yah, tidak salah lagi. Aku begitu mencintainya.
“Rhe, sebelumnya maafin aku. Kamu marah sama aku juga aku terima. Mungkin aku jahat dimata kamu. Mungkin aku egois dengan perasaan aku sendiri. Tapi ini semua harus terjadi. Rhea, aku sayang sama kamu, tapi cuma sebatas sayang aku ke ade,”
“Ma-maksud kamu apa sih? Aku dari tadi nggak ngerti apa yang kamu omongin,”
“Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya Rhe. Ternyata, aku masih sayang sama mantanku, Aura. Tolong ngertiin ya Rhe, aku sama dia sudah berjalan 2 tahun lamanya. Aku masih sayang dia,”
Bagai karang diterpa ombak. Kaget. Sedih. Kecewa. Marah. Semua rasa itu campur aduk dan bergemuruh menjadi satu didalam hatiku. Aku hanya bisa terdiam. Begitu shock mendengar langsung kata-kata yang keluar dari mulutnya. Setetes air mata jatuh kepipiku. Lalu semakin deras, dan semakin terasa sesak hati ini.
“O-oke, kalo itu keputusan kamu. Aku terima, walaupun sangat berat untuk aku bisa terima semua kenyataan ini,” kataku sesenggukan, lalu dengan cepat bangkit dari tempat dudukku, dan pergi meninggalkannya.
“Rhe! Maafin aku! Tapi aku sayang sama kamu!”
Aku berhenti ditempat. Kemudian menoleh ke arahya. “Percuma kamu sayang sama aku, meskipun rasa sayang itu cuma sebatas rasa sayang ke ade. Mendingan, kamu simpan rasa sayang itu untuk mantan kamu, karena dia yang lebih pantes mendapatkan rasa sayang itu. Rio, aku bahagia, bila melihat orang yang aku sayangi, bahagia,” kataku sambil berlalu. meninggalkan Rio yang sedang diam terpaku dalam tempat. Ada tergores rasa menyesal diraut wajahnya.
***
Malam itu dibawah sinar rembulan, aku menangis seorang diri. Menangisi semua kejadian yang menimpaku. Oh, hidup terasa tidak adil bagiku. Kenapa disaat aku sedang mulai jatuh cinta padanya, dia begitu saja pergi meninggalkan aku? Apakah dunia sedang membalaskan dendamnya terhadapku? Apakah aku sekarang terkena karma? Yah, mungkin tepatnya aku terkena karma cinta. Huaaaaahhhhh…..
TAMAT
Minggu, 05 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar