Sore itu langit menampakkan wajah sendunya. Dengan tenang dan tanpa permisi, buliran-buliran air mata langit turun dengan derasnya. Hujan sore ini begitu lebat hingga merontokkan daun dan dahan-dahan pohon mangga yang berada tepat di depan jendela kamarku. Aku termenung sendiri di depan jendela kamarku. Merasakan nikmat dan anugerah Tuhan yang sangat luar biasa. Aku suka hujan. Ada kalanya hujan juga merugikan. Tapi aku tetap menikmatinya. Sembari menggenggam secangkir coklat panas ditangan kananku, pikiran ku melayang, terbang tak beraturan, hingga pikiranku mentok pada sosok wajah yang sangat aku kenali. Adit. Teman kecilku yang selalu menemaniku di kala aku senang dan sedih. Selalu merubah hidupku menjadi lebih berwarna. Sudah seminggu ini nama Adit selalu terngiang-iang dalam kepalaku. Memenuhi seluruh memori otakku. Entah kenapa aku selalu merindukan cowok itu. Cowok dengan sejuta bualan. Tapi kadang sifat cuek dan masa bodoh nya keluar dengan tenangnya. Justru aku suka dengan sifatnya itu. Begitu menghangatkan pikiranku kala mengingatnya.
Drrt.. drrt…
Hp ku mengalun dengan merdunya. Menyadarkanku dari lamunan panjang ini. Aku segera mengambil hpku yang sedang menari-nari diatas meja belajar.
Nat…
Panjang umur. Sms dari Adit. Aku tersenyum begitu membacanya. Kenapa sih sms dari kamu selalu membuatku tersenyum?Batinku. Aku langsung membalasnya, dan merebahkan diri dikasur empukku.
***
“Nat, Natalie!tunggu!aku mau ngomong penting nih,” teriak Raya dari ujung lorong sekolah. Aku menoleh ke belakang, dan mendapati sahabatku sedang berlari kearahku.
“Ada apa?Kayaknya penting banget,” tanyaku langsung begitu Raya tiba dihadapanku.
“Ngomongnya jangan disini Nat. Ditempat favorit kita. Gimana?”
“Oke.Yuk,”
***
Setibanya di tempat favorit, tepatnya di taman belakang sekolah, kita langsung duduk di bawah pohon rindang. Hmm, aku merindukan suasana ini. Suasana dimana aku dan Adit biasanya menghabiskan waktu dengan bercanda ria. Huh, Adit lagi, Adit lagi. Kapan sih kamu bisa hilang dari otakku?
“Nat, kok melamun?Aku ngajak kamu kesini bukan untuk ngeliat kamu melamun, tapi ada sesuatu yang ingin aku omongin. Are you ready to hear this?” tanyanya dengan senyum yang mecurigakan. Aku hanya tersenyum dibuatnya, dan mengangguk dengan cepat. Kadang Raya ini sangat konyol dan kekanak-kanakan. Tapi aku sangat menyayanginya.
“Oke. Dengerin baik-baik. Natalie Aulia Arnelita, apakah kamu sudah menjalin hubungan bersama Adit Firmansyah?” tanyanya dengan suara lantang dan penuh percaya diri. Aku hanya bisa melongo dan kaget apa yang telah dilontarkan oleh sahabatku ini.
“Ngaco!gosip dari mana pula itu?”
“Dari anak kelas. Ah, itu gak penting. Yang penting, kamu udah jadian sama Adit? Masa sih Nat? Kan kalian cuman sobatan kan?”
“Emang sobatan. Lagian siapa lagi yang jadian. Plis deh. Kamu percaya banget sih,”
“Bukannya gitu. Masalahnya, waktu kemarin aku ngeliat Adit lagi berduaan sama sepupu kamu, Mia.”
Aku tercengang begitu mendengar apa yang dilontarkan oleh Raya. Adit deket sama Mia?Sejak kapan?
“Ma-masa sih? Hm..ya..itu sih terserah Adit dong mau deket sama siapa aja. Bukan urusan aku. Lagian, sekarang aku dan Adit udah jauh. Gak deket kayak waktu dulu. Kenapa pula ada gosip aku udah pacaran sama dia? Kenapa gak dari dulu aja gosipin aku pas aku lagi deket-deketnya sama Adit? Iya kan? Aku bukan siapa-siapanya Adit. Hanya sebatas temen masa kecil doang ko. Gak lebih,” kataku dengan bibir bergetar. Entah kenapa ada perasaan sakit yang terselubung dan begitu mendalam di hatiku. Sejurus kemudian aku berlari meninggalkan Raya yang sedang terdiam dan terpaku.
***
Siang itu aku berjalan dengan gontai menyusuri koridor sekolah. Jam pulang sekolah sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Aku sengaja tidak langsung pulang kerumah, dan hanya mengitari sekolahku yang sangat luas ini. Sedetik kemudian aku duduk di dekat lapangan basket. Cuaca saat itu cukup panas. Sehingga banyak peluh yang keluar dari tubuh ini. Dari arah kejauhan, aku melihat sosok yang sangat tidak asing bagiku. Dia Adit. Bersama cewek di sampingnya, Mia. Tiba-tiba ada suatu perasaan aneh yang menjalar hingga keubun-ubun. Perasaan campur aduk ini tidak bisa aku hindari. Spontan, aku menendang kaleng minuman, yang kebetulan berada tepat di sampingku. Bunyi kaleng itu cukup menimbulkan suara gaduh. Ekor mataku sedikit melirik kearah mereka berdua, dan tentu saja dengan sigap mereka menatap ke arah sumber suara. Aku hanya bisa diam terpaku. Aku langsung mengambil handphone dari saku bajuku, dan mengotak-atiknya dengan asal. Tentu handphone ku ini sekarang menjadi alat kamuflase. Sesekali aku melirik ke arah mereka. Tidak ada reaksi atau gerak-gerik mencurigakan. Apa sih maunya mereka? rutukku dalam hati. Tiba-tiba aku tersadar. Entah ada perasaan apa hingga dengan santainya rasa itu menguasai hatiku saat ini. Aku cemburu?Oh, yang benar saja….
***
Aku berdiri seperti biasa didekat jendela kamarku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktuku hanya untuk berdiri, dan memandangi hamparan taman yang begitu luas dengan bunga mawar yang mendominasi tamanku. Sungguh menyejukkan hati. Kuasa senja kala itu mulai redup. Sebias cahaya mentari di ujung barat, mulai tenggelam. Kini kerajaan malam mulai muncul. Tapi sang dewi malam belum juga menampakkan sayap kekuasaannya. Tanpa disengaja, aku memutar kembali memori didalam otakku tentang insiden tadi siang. Dengan tenangnya aku menjatuhkan air mataku. Begitu sakit rasanya hati ini kala mengingat kejadian itu. Tapi aku sadar. Aku bukan siapa-siapanya Adit. Aku juga sadar. Aku telah mencintai teman masa kecilku. Apa aku salah, telah mencintai sahabatku sendiri? Tanyaku berulang-ulang dalam hati.
Tanpa disengaja, sudah 10 menit aku berdiri disini sambil menatap lurus kedepan. Dari arah kejauhan, ada sesosok lelaki yang berdiri di depan gerbang rumahku. Ah, itu kan Adit. Ya ampun Nat, sampai kapan kamu bisa lupain dia?Inget, dia udah ada yang punya. Mungkin itu cuma halusinasiku saja. Forget it! jeritku dalam hati sambil menutup kedua kupingku. Kemudian melihat lagi ke arah gerbang. Melihat dengan sejelas-jelasnya, sambil mengucek-ucek mataku dengan kedua tanganku.
Tok, tok, tok…
Pintu kamarku diketuk dari arah luar. Aku langsung menuju pintu, dan membukanya.
“Ada apa bi?” tanyaku pada bi Sumi.
“Itu Non, ada tamu diluar, katanya den Adit,” katanya. “Permisi non,” lanjutnya sambil meninggalkan aku yang sedang terdiam. Adit?Berarti benar dugaanku. Aku langsung berlari menuruni tangga satu persatu dan langsung menuju halaman depan.
“Adit!” teriakku saat berlari kecil menuju pintu gerbang. Aku terdiam sebentar menatap wajah Adit. Aku sudah lama banget tidak melihat wajah nyebelin kamu Dit..
“Ehem! jadi aku gak boleh masuk nih? Inget lho, aku temen masa kecil kamu,” katanya sambil tersenyum kecil. Aku ikut tersenyum. Lalu membuka pintu gerbang.
“Masuk Dit,” kataku mempersilakan. Adit pun menurut, lalu langsung duduk di kursi yang berada ditaman.
“Mau minum apa? Biar aku yang ambil..” sebelum aku melangkahkan kakiku untuk mengambil minum, Adit menarik tanganku, membuat aku kaget setengah mati. Lalu Adit berdiri, dan menarikku ke dalam pelukannya. Hah?Apa-apaan sih kamu Dit ,Bodoh.
Aku langsung mendorong badan kekar Adit. Kami sama-sama menatap satu sama lain.
“Apa-apaan sih kamu Dit? Sembarangan, meluk orang seenaknya!” ujarku kesal. “Oh, jadi gini ya, kerjaan cowok yang padahal udah punya cewek,” lanjut ku.
“Kamu ngomong apa sih Nat? Aku gak ngerti,”
“Udah deh. Aku lagi nggak mau berdebat sama kamu. Mendingan kamu pulang aja Dit. Ini udah malem,” Kataku sambil mendorong Adit untuk yang kesekian kalinya. Adit hanya bisa diam dalam tempat. Menatapku yang sekarang sudah mulai berjatuhan air mata. Adit mendekati aku, lalu mengusap air mataku, dengan perlahan-lahan. Sangat jelas aku bisa merasakan kehangatan tangan Adit yang sangat menyentuh jiwaku. Tenang. Damai.
“Cukup Dit. Kamu nggak usah care lagi sama aku. Tuh, disana udah ada yang nungguin,” kataku dengan bibir bergetar, menahan tangis ini agar tidak meledak. Adit menoleh ke belakang. Digerbang sana terdapat Mia yang sedang berdiri, melihat kami dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Lalu Mia masuk dan menghampiri kami berdua.
“Hai semua. Lho, Nat, kamu abis nangis? Adit, kamu apakan sepupu aku? Katanya sayang, kok malah dibikin nangis sih. Dasar cowok aneh,” Ujarnya sambil melenggang dengan santainya masuk kedalam rumahku. Aku hanya bisa melongo mendengar apa yang dibicarakan oleh Mia. Sedetik kemudian aku menatap Adit yang sekarang sedang tersipu malu.
“Maksudnya?” kataku sambil menghapus sisa-sisa air mata didalam mataku. Adit hanya menghela napas panjang. Lalu menatap wajahku. Lama.
“Natalie, jangan di ulangin lagi dong. Adit kan malu,” katanya dengan memasang wajah innocent. Aku tertawa melihat tampangnya yang begitu lugu.
“Apaan sih? Gak lucu deh. Emang tadi apa sih maksudnya Mia ngomong kayak gitu? Hmm, jangan bilang kalo kamu suka ama aku? Hahaha,”
“Idih, GR banget. Siapa lagi yang suka sama cewek yang hobi tidur dan hobi ngemil kayak kamu. Tambah melar tuh badan. Hahaha,”
“Ih, apaan sih? Biarin. Daripada kamu, hobi ngorok dan hobi ngupil. Ih, amit-amit cabang bayi deh,”
“Bodo. Tapi suka kan?” tanyanya sambil menyenggol lengan kananku.
“Apaan sih. Nggak lucu tau nggak. Yodah, kalo nggak ada yang penting, mending kamu pulang aja Dit. Oia, sekalian bawa cewek kamu, MIA.” sengaja aku menekankan kata Mia ditelinga Adit. Adit hanya memasang wajah datar.
“Oia lupa, soal Mia. Aku mau ngomong penting nih Nat,”
“Apaan?”jangan bilang kamu udah jadian sama Mia, Dit.
“Hmm, Kalo aku, udah.. jadian sama sepupu kamu,” bisiknya tepat ditelinga kiriku. Bagai petir disiang bolong. Aku bisa merasakan sakit yang luar biasa menggrogoti hatiku. Tanpa terasa aku menteskan air mataku. Sangat deras.
“Nat, kok nangis lagi sih? Udah ya, cup, cup. Aku nggak tahan kalo melihat orang yang aku sayangi, menangis.” katanya sambil mengusap air mataku penuh kelembutan. Aku nggak salah dengar kan? Berarti, yang Mia omongin itu, bener dong. Ih, Adit nyebelin!
“Nat, aku sayang banget sama kamu. Mau kan, kalo Adit jadi cowok kamu?”
Aku hanya bisa terdiam. terkejut apa yang telah Adit lontarkan.
“Jahat!”
“Kok jahat sih? Segini Adit baiknya,”
“Kalo Adit suka sama Nat, ngapain tadi pake bohong segala? Nyebelin!” ucapku dengan bibir manyun sembari pasang muka cemberut.
“Oh, yang itu. Hmm, maaf ya, Adit cuman mau ngetes aja kok. Bener gak, kalo kamu cemburu sama aku? Eh, benar kan dugaan Adit, kamu cemburu? Pake nangis segala lagi,”
“GR banget sih. Ngapain cemburu.” Sejurus kemudian Adit memegang kedua tanganku, lalu mencium punggung kedua tanganku. Kemudian memelukku.
“Nat, asal kamu tau, waktu itu Adit ngobrol berdua sama Mia dilapangan basket itu, cuma curhat tentang kamu. Kalo Adit suka sama kamu. Malam ini, Adit sengaja nyuruh Mia datang kesini, cuma mau bantuin Adit aja kok. Gak lebih. Kamu percaya kan?” katanya dengan posisi masih memelukku. Aku hanya bisa mengangguk. Lalu memejamkan kedua mataku.
“Aku juga sayang banget sama kamu Dit,” Adit melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum. Lalu kami berpelukan lagi dengan eratnya.
“Cie, yang udah jadian!!” teriak dari arah dalam rumah. Disitu terdapat Mia dan Raya. Kompak, mereka tertawa terbahak-bahak. Hah?Raya?Sejak kapan tuh bocah ada disitu?
Spontan kami langsung melepaskan pelukannya, dan menyelamatkan wajah kami yang sudah berubah warna itu.
Hmm… selamatkan roman cintaku dari kalimat “hancur dan mati”. Jadikan roman cintaku selalu hidup dan tak pernah sirna. Ku mohon…batinku.
TAMAT
Minggu, 05 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar